Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sejarah Masjid Pertama di Berlin

Minggu, 30 November 2008

Keunggulan Muhammad Musthafa SAW

Kelebihan Muhammad SAW dari Nabi-nabi yang lain

Kitab Suci Al-Qur’an mengungkapkan bahwa semua Nabi-nabi adalah pengikut dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. sebagaimana difirmankan:

“Kemudian datang kepadamu seorang rasul yang menggenapi wahyu yang ada padamu maka haruslah kamu beriman kepadanya dan haruslah kamu membantunya”. (S.3 Ali Imran:82).
Dari sana bisa disimpulkan bahwa semua Nabi-nabi menjadi pengikut dari Nabi Suci s.a.w. (Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 300, London, 1984).

* * *
Hadzrat Rasulullah s.a.w. menggabung semua nama-nama para Nabi dalam wujud beliau dengan pengertian bahwa beliau memiliki semua kelebihan dari masing-masing Nabi tersebut. Dengan demikian beliau itu adalah juga Musa, Isa, Adam, Ibrahim, Yusuf dan Yakub. Hal ini diindikasikan dalam ayat:

“Mereka itulah orang-orang yang terhadap mereka Allah memberi petunjuk maka ikutilah petunjuk mereka”. (S.6 Al-Anaam:91)
yang berarti agar Hadzrat Rasulullah s.a.w. menggabungkan dalam diri beliau semua petunjuk yang berbeda-beda yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi lain. Berarti semua kehormatan dari para Nabi-nabi telah menjadi satu dalam diri Nabi Suci s.a.w. dan karena itu jugalah nama beliau sebagai Muhammad berkonotasi yang amat terpuji karena pujian luhur seperti itu hanya bisa dibayangkan jika semua keunggulan dan sifat-sifat khusus para Nabi lainnya menjadi satu dalam wujud Nabi Suci s.a.w. Banyak ayat di dalam Kitab Al-Qur’an yang menyatakan secara tegas bahwa wujud Nabi Suci s.a.w. karena keluhuran fitratnya adalah merupakan gabungan dari para Nabi lainnya. Setiap Nabi yang pernah ada akan bisa menemukan keterkaitan dirinya dengan beliau sehingga menubuatkan bahwa beliau akan datang atas nama dirinya.

Di suatu tempat Al-Qur’an mengemuka¬kan bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. memiliki kedekatan yang sangat dengan Nabi Ibrahim a.s. (S.3 Ali Imran:69)10. Dalam salah sebuah hadith Bukhari, Hadzrat Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa beliau memiliki hubungan yang dekat dengan Nabi Isa a.s. dn bahwa wujud beliau menjadi satu dengan wujud Nabi Isa tersebut. Hal ini mengkonfirmasikan nubuatan Nabi Isa a.s. yang menyatakan bahwa Nabi Suci s.a.w. akan muncul dengan namanya dan begitu jugalah yang terjadi ketika Al-Masih kita datang untuk menyelesaikan karya dari Al-Masih Nasrani dan memberi kesaksian atas kebenaran dirinya serta membebaskannya dari fitnah yang dilontarkan oleh umat Yahudi dan Kristen dan dengan cara demikian telah memberikan ketenteraman pada ruh dari Nabi Isa a.s. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 343, London, 1984).
* * *
Wahyu Ilahi merupakan cermin dimana sifat-sifat sempurna daripada Allah yang Maha Agung bisa dilihat, dan kemampuan melihat ini tergantung kepada kadar kebersihan daripada Nabi yang menjadi penerima wahyu. Mengingat Hadzrat Rasulullah s.a.w. derajatnya jauh melampaui semua Nabi-nabi dalam masalah kemurnian jiwa, daya serap penalaran, kesucian, kerendahan hati, ketulusan, kepercayaan, ketaatan dan cintanya kepada Tuhan maka Allah yang Maha Luhur telah mengurapi beliau dengan wewangian khusus yang jauh lebih harum daripada para Nabi lainnya. Dada dan hati beliau yang lebih jembar, suci, polos, cemerlang dan welas asih dianggap lebih berhak menerima wahyu Ilahi yang paling sempurna, lebih kuat, lebih luhur dan lebih lengkap dibanding wahyu yang diturunkan kepada mereka sebelum atau setelah beliau. Karena itulah maka Kitab Al-Qur’an memiliki keunggulan yang demikian luar biasa sehingga kecemerlangan semua Kitab-kitab yang diwahyukan sebelum¬nya menjadi suram dibanding keperkasaan Nur dari Al-Qur’an.
Tidak ada penalaran yang mampu mengemukakan suatu kebenaran baru yang tidak terdapat di dalam Kitab Al-Qur’an dan tidak ada argumentasi yang belum direpresentasikan di dalamnya. Tidak ada kata-kata yang bisa demikian mempengaruhi hati seperti firman-firman perkasa yang menjadi berkat bagi jutaan hati manusia. Tidak diragukan lagi bahwa Kitab ini merupakan cermin jernih yang merefleksikan sifat-sifat sempurna Ilahiah dimana semuanya bisa ditemukan apabila diinginkan seorang pencari kebenaran untuk mencapai tingkat pemahaman tertinggi. (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 71-72, London, 1984).
* * *
Karena Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah sebaik-baiknya Nabi dan memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding semua Rasul dan karena Allah s.w.t. juga mentakdirkan beliau sebagai penghulu dari semua Nabi maka sepantasnya pula jika beliau dinyatakan kepada dunia sebagai manusia yang lebih baik dan lebih luhur dari semuanya. Karena itu maka Allah yang Maha Agung meluaskan penyebaran berkat-Nya kepada seluruh umat manusia agar segala usaha dan upaya beliau dapat dimanifestasikan secara umum dan tidak terbatas pada satu bangsa tertentu sebagaimana halnya dengan ajaran Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. Dengan demikian karena aniaya yang ditimpakan kepada beliau dari segala jurusan dan oleh berbagai jenis bangsa maka sewajarnya beliau berhak atas ganjaran akbar yang tidak akan diberikan kepada Nabi-nabi lainnya. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 653-654, London, 1984).
* * *
Adalah menjadi keyakinanku bahwa misalnya, dengan mengesampingkan Nabi Suci s.a.w., jika semua Nabi-nabi yang mendahului beliau itu digabungkan untuk melaksanakan tugas-tugas mereka serta melancarkan reformasi yang dibawa oleh Nabi Suci s.a.w. maka mereka semua itu tidak akan ada yang mampu. Mereka tidak ada memiliki tekad dan kekuatan sebagaimana yang telah dikaruniakan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. Kalau ada seseorang yang menyatakan bahwa apa yang aku kemukakan ini sebagai penghinaan kepada Nabi-nabi lain maka sama saja dengan orang itu telah mengutarakan fitnah terhadap diriku. Adalah bagian dari keimananku untuk menghormati dan menghargai Nabi-nabi tersebut, hanya saja Hadzrat Rasulullah s.a.w. berada di atas semuanya. Nabi-nabi yang lain merupakan bagian dari keimananku juga dan keseluruhan diriku diresapi oleh keimanan demikian. Adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan diriku untuk meniadakannya. Biarlah para lawanku yang buta mengatakan apa yang mereka mau, yang jelas Nabi Suci kita telah melaksanakan tugas yang jika pun dikerjakan secara bersamaan atau pun sendiri-sendiri oleh para Nabi lain, tetap saja mereka tidak akan mampu melaksanakannya. Hal ini merupakan rahmat Allah s.w.t. yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. (Malfuzat, vol. II, hal. 174).
* * *
Kitab suci umat Yahudi jelas menyatakan bahwa seorang juru selamat seperti Musa a.s. akan dikirimkan kepada mereka. Berarti bahwa juru selamat ini akan muncul ketika umat Yahudi sedang mengalami keadaan penderitaan dan penghinaan mirip dengan keadaan pada masa Firaun dahulu. Mereka akan diselamatkan dari siksaan dan penghinaan jika mereka mau beriman kepadanya. Tidak diragukan lagi bahwa sosok yang ditunggu-tunggu umat Yahudi selama berabad-abad tersebut serta yang telah dinubuatkan oleh Kitab Taurat adalah junjungan dan penghulu kita Hadzrat Muhammad s.a.w. Ketika beberapa suku Yahudi beriman kepada beliau, lalu muncullah di antara mereka beberapa raja-raja agung11. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah yang Maha Kuasa telah mengampuni dosa-dosa mereka karena mereka menerima Islam dan mengasihi mereka sebagaimana dijanjikan dalam Taurat. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 302-303, London, 1984).
* * *
Keagungan yang dikaruniakan kepada Nabi Isa a.s. adalah karena beliau mengikuti Hadzrat Muhammad s.a.w. karena Nabi Isa telah diberitahukan mengenai Nabi Suci ini dan beliau beriman kepadanya dan dengan demikian mencapai keselamatan berkat keimanannya tersebut. (Al-Hakam, 30 Juni 1901, hal. 3).
* * *
Sekarang akan kita bandingkan Nabi Isa a.s. dengan Nabi Suci s.a.w. berkaitan dengan perlakuan para pemerintahan atau raja-raja pada masa itu terhadap mereka dan bagaimana manifestasi dari harkat keagungan dan bantuan Ilahi kepada mereka masing-masing. Dari hasil telaah akan kita temui bahwa berbeda dengan Hadzrat Rasulullah s.a.w. ternyata Nabi Isa a.s. selain tidak ada menunjukkan sifat-sifat ketuhanannya bahkan beliau ini gagal memperlihat¬kan tanda-tanda sebagai seorang Nabi.
Ketika Hadzrat Rasulullah s.a.w. mengirimkan pesan kepada para penguasa atau raja-raja di masa itu, Kaisar Roma ketika menerima pesan beliau menarik nafas panjang mengeluhkan bahwa ia terperangkap di antara umat Kristiani dan kalau saja ia orang merdeka maka ia akan berbangga hati untuk bisa menghadap Hadzrat Rasulullah s.a.w. dan membasuh kaki beliau sebagaimana laiknya seorang hamba sahaya.

Namun raja yang berhati kejam yaitu Khosroe dari Iran merasa terhina dan mengirimkan dua orang prajurit untuk menangkap Hadzrat Rasulullah s.a.w. Mereka tiba di Medinah menjelang senja dan memberitahu¬kan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. bahwa mereka dikirim untuk menangkap beliau. Beliau mengabaikan apa yang mereka kemukakan dan mengajak mereka untuk masuk Islam. Saat itu beliau sedang berada di dalam mesjid ditemani oleh tiga atau empat orang sahabat namun nyatanya utusan raja itu bergetar tubuhnya karena pesona beliau. Pada akhirnya mereka bertanya, jawaban apakah yang harus mereka bawa kepada raja mereka berkaitan dengan tugas penangkapan beliau itu. Hadzrat Rasulullah s.a.w. meminta mereka untuk menunggu sampai besok hari. Keesokan harinya ketika mereka menghadap, beliau berkata kepada mereka:
“Ia yang kalian sebut sebagai raja dan tuhan adalah bukan tuhan sama sekali. Tuhan adalah wujud yang tidak akan pernah mengalami kerusakan atau kematian. Tuhan kalian telah terbunuh tadi malam. Tuhan-ku yang sesungguhnya telah mendorong Sherweh melawan dirinya dan tadi malam ia telah dibunuh oleh tangan putranya sendiri. Inilah jawabanku.”.
Kejadian ini merupakan mukjizat akbar dimana sebagai kesaksiannya maka beribu-ribu bangsa negeri itu lalu beriman kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. karena merupakan suatu kenyataan bahwa Khusro Pervez sang Khosroe Iran telah terbunuh malam itu. Hal ini bukanlah suatu pernyataan samar-samar sebagaimana yang diajukan oleh Kitab Injil mengenai kemenangan Nabi Isa a.s. namun didukung oleh fakta sejarah. Mr. Davenport juga ada mengemukakan hal ini dalam bukunya.

Berbanding terbalik dengan hal di atas, bagaimana kurang ajarnya perlakuan penguasa di masa Nabi Isa a.s. terhadap beliau sudah sama diketahui. Barangkali Kitab Injil masih ada mengungkapkan bagaimana Herodes12 telah mengirimkan Nabi Isa a.s. kepada Pontius Pilatus sebagai seorang tertuduh. Yesus ditahan beberapa waktu dalam penjara namun sifat ketuhanannya ternyata tidak ada muncul. Tidak ada satu pun raja datang menawarkan dengan berbangga hati bersedia melayani dan membasuh kaki beliau. Pilatus kemudian menyerahkan nasib Yesus kepada umat Yahudi.
Apakah ini merupakan tanda ketuhanannya? Betapa berbedanya keadaan di antara kedua sosok manusia yang menghadapi keadaan yang sama tetapi dengan akhir yang jauh berbeda. Di satu sisi seorang raja yang angkuh telah digoda Syaitan untuk menangkap seorang yang mengaku sebagai Nabi namun dirinya kemudian ditimpa kutukan Ilahi dan mati terbunuh secara hina di tangan putranya sendiri. Pada sisi lain seseorang yang diangkat oleh para pengikutnya naik ke surga malah nyatanya mengalami penangkapan, penahanan dan diusung sebagai seorang pesakitan dari satu kota ke kota lain.
(Noorul Qur’an, no. 2, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 9, hal. 384-386, London, 1984).

Tidak ada komentar: